Refleksi Pedagogis atas Kunjungan ke Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon

Oleh : Ustadz Yusuf Mansur * Sore itu cahaya merah matahari tumpah ruah ke hamparan persawahan yang hijau. Saya membuka jendela mobil dan membiarkan semilir angin berembus menerpa wajah. Sembari menghirup udara perbukitan yang sejuk, saya membiarkan gemericik air mengalun merdu di telinga. Jarak antara pondok pesantren yang ingin saya tuju dan jalan raya terhubung oleh jalan setapak. Rasa penasaran seperti apa pendidikan di Pesantren Bina Insan Mulia membuat perasaan ini semakin menggebu gebu. Mobil merangkat semakin pelan selepas melintasi jembatan kecil dengan air sungai yang mengalir deras di bawahnya, lalu tiba di depan pintu gerbang pesantren. Tampak santri yang mendapat tugas piket datang menghampiri mobil. Dengan bahasa yang santun dan sikap tubuh yang ramah sekali, mereka mengarahkan mobil kami ke halaman parkir yang tidak jauh dari masjid. Terasa seperti penerapan manajemen protokoler yang rapi.

Turun dari mobil, saya berjalan kaki menuju dalem kiai Imam Jazuli. Di kanan dan kiri para santri berdiri mematung menghormati tamu. Setiap kali berpapasan dengan santri, mereka memperlakukan tamu layaknya seorang yang sangat terhormat. Begini etika pesantren yang memang lestari di lingkungan pesantren pada umumnya, termasuk di Bina Insan Mulia ini. Di sudut sudut saya lihat kelompok kelompok kecil, terdiri dari beberapa santri yang belajar dan dipandu satu pembimbing. Bahasa pengantarnya terdengar seperti percakapan bahasa Ingris, dan di sutu lain berbahasa Arab. Dari informasi santri yang memandu saya dari parkiran mobil ke dalem kiai, saya tahu bahwa mereka sedang mempersiapkan diri melanjutkan studi perguruan tinggi ke Eropa dan Timur Tengah. Saya terus berjalan melintasi kolam kolam ikan yang menghiasai pesantren, berpadu dengan desain bangunan asrama dan sekolah santri yang menonjolkan spirit etnik. Kali ini saya menyaksikan langsung dengan mata kepala pondok pesantren etnik terbesar di Indonesia. Bukan sekedar rumor. Setelah sowan dan berbincang panjang lebar dengan figur Kiai Imam Jazuli, saya pun diajak untuk menyaksikan lebih dekat bangunan pesantren etnik ini.

Di titik inilah, saya betul betul sangat ingin mengapresiasi konsep pendidikan Kiai pengasuh Bina Insan Mulia. Sekalipun bangunan pesantren secara lahiriah mengusung konsep etnis, tetapi jika masuk ke bagian dalamnya, kita semua akan disuguhi oleh perlengkapan teknologi modern. Ada perlengkapan belajar mengajar yang komplit, seperti LCD Proyektor, TV LED, dan bahkan ada studi Broadcast, studio musik dan Bioskop. Modernitas dan lokalitas berpadu sempurna, seperti dalam semboyan: almuhafazhah alal qadimis sholeh wal akhdzu bil jadidil ashlah. Saya sempat bertanya pada Kiai Imam Jazuli tentang proses pembelajaran di pesantren. Menurut beliau, pembelajaran dijalani dengan riang gembira. Santri santri terbakar semangat untuk menempa diri, karena hampir mereka semua bercita cita tinggi, baik untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri maupun kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa dan umat. Sore itu sembari menikmati pemandangan pondok pesantren berwajah etnis terbesar ini, saya juga menyempatkan diri berbincang dengan guru guru pengajar di Pesantren Bina Insan Mulia. Dari penjelasan mereka, saya menarik benang merah bahwa transfer ilmu pengetahuan saja tidak cukup tanpa disertai transfer pengalaman dan semangat. Para guru yang rata rata bergelar master dan doktor dari luar negeri ini malah sering mengedepankan transfer spirit dan pengalaman dibanding sekedar ilmu pengetahuan.

Dalam benak pikiran dan lubuk hati terdalam, saya bergumum: kurikulum di pondok Bina Insan Mulia ini sangat inovatif dan kreatif. Bahkan, dalam konteks tertentu, sangat akseleratif, terlebih bagi penggemblengan mentalitas dan idealisme peserta didik. Tentu saja tidak semua pondok pesantren mampu menghadirkan tenaga pengajar yang bergelar master dan doktor. Tetapi, bila ini terjadi maka akan bermanfaat besar bagi peningkatan kualitas pendidikan pesantren pada umumnya. Saya sendiri cukup terkesima dengan mimpi Kiai Imam Jazuli bahwa pada 2028 nanti harus ada 1.000 sarjana lulusan luar negeri yang sebelumnya alumni Pesantren Bina Insan Mulia. Mimpi ini mengingatkan saya sejarah negeri ini, yang banyak berhutang budi pada ilmuan ilmuan yang menempuh pendidikan di luar negeri, baik Eropa seperti Drs. RM Sosrokartono, Ir. Soekarno dan Dr. Drs. Mohammad Hatta maupun Timur Tengah seperti Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Khalil Bangkalan dan Kiai Haji Mohammad Hasyim Asy’ari. Hal lainnya, ketika penulis berbincang dengan salah satu asatidz dan santri, ia bercerita bahwa seluruh santri tingkat SMK & MA yang berjumlah sekitar 800an berpuasa tirakat dalail Khairat dan mengamalkan shalawat dalailul khairat selama 3 tahun. Ini sangat menakjubkan, sebab kita tahu bahwa pesantren pesantren salafiyah (terdahulu) punya tradisi ini, tetapi sekarang hanya sedikit yang masih melestarikan dan yang sedikit itu diantaranya santri santri pesantren Bina Insan Mulia.

Sebenarnya bukan hanya santri yang sedang menuntut ilmu saja yang dahulu terbiasa mengamalkan tirakat Dalailul Khairat ini. Bahkan para penganut tarekat di nusantara baik itu Qadiriyah, Naqsabandiyah, Syadziliah, hingga Syattariah banyak yang mengamalkan tirakat ini dengan bimbingan mursyidnya. Biasanya Dalailul Khairat ini dijadikan Hizib keberkahan bagi pengamal suatu Tarekat yang sudah berjalan ratusan tahun. Sementara KitabDalail Khairatmerupakan karya monumental Syekh Imam Abu abdullah Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli, seorang ulama besar dari negeri Afrika pada abad ke 9 Hijriyah. Dalam Dalail Khoirot terkandung shalawat2, wasilah, dan Asma2 Nabi yg jumlahnya 201 Nama, dan memiliki banyak fadilah dengan mengamalkannya. Diantaranya: dimudahkan terkabulnya hajat, dijauhkan dari Musibah, menjadikan Ilmunya bermanfaat, dikabulkan doanya (mustajab), dan lain lain. Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Sinar matahari di ufuk barat semakin redup dan langit mulai berselimutkan gelap. Suara tarkhim mulai berkumandang dari pengeras suara masjid. Para santri dan santriwati hilir mudik menuju masjid. Saya mencukupkan diri atas kunjungan dan silaturahmi kali ini ke dalem kiai Imam Jazuli; sosok ulama visioner yang segala ide idenya mewujud dalam lembaga pendidikan yang dikelolahnya.

Sepanjang perjalanan pulang meninggalkan Pesantren Bina Insan Mulia, saya teringat sebuah kalimat dari Arif Mufdi Barjaz bahwa “pendidikan menurut Imam Ghazali itu bertujuan mewujudkan kebutuhan spiritual (diniyah) dan material (dunyawiyah). Dengan cara meraih semua kebutuhan itulah maka sempurnalah kebahagiaan manusia (Barjaz, al Tawjih al Islami li al Nasy i fi Falsafati al Ghazali, Beirut: Dar al Andalus, 1981: 23). Bagi al Ghazali, pendidikan Islam harus diorientasikan pada tujuan keagamaan dan keduniaan. Saya rasa, jika itu tujuannya maka para wali santri dan wali murid yang mendidik anak anak mereka di Pesantren Bina Insan Mulia, memiliki peluang besar meraih kesuksesan dunia dan kebahagiaan akhirat. Wallahu a’lam bis shawab. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur'an (DAQU) dan penggagas Gerakan Naional "Indonesia Bersedekah".

Leave a Reply

Your email address will not be published.