Perancis Kirimkan Senjata Baru ke Arab Saudi

Pemerintah Perancis telah mengkonfirmasi pengiriman senjata baru yang menuju Arab Saudi, namun membantah tuduhan bahwa senjata tersebut digunakan dalam perang di Yaman. Disampaikan Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly, kepada stasiun televisi BFM, bahwa senjata dikirim menggunakan kapal kargo milik Saudi yang merapat ke pelabuhan Le Havre, Rabu (8/5/2019).

Parly menolak untuk mengidentifikasi jenis senjata yang dikirimkan, namun menegaskan kembali sikap Perancis bahwa senjata yang mereka kirim digunakan hanya untuk tujuan pertahanan oleh Arab Saudi, sejak negara itu memulai operasi ofensif ke Yaman pada 2015. “Sejauh yang diketahui pemerintah Perancis, kami tidak menemukan bukti bahwa para korban di Yaman adalah hasil dari penggunaan senjata Perancis,” kata Parly.

Namun klaim menteri itu tidak sejalan dengan kabar yang beredar di tengah masyarakat setelah sebuah situs berita investigasi Disclose mengungkap catatan militer rahasia yang merinci penggunaan tank dan artileri Perancis dalam perang melawan pemberontak Houthi.

Situs tersebut mengungkapkan dugaan pengiriman baru yang akan dilakukan Perancis, termasuk delapan unit meriam truk Caesar, meski sumber pemerintah menegaskan kepada AFP bahwa meriam tersebut tidak masuk dalam pengiriman terbaru.

Tudingan keterlibatan Perancis dalam dugaan kejahatan perang melawan warga sipil di Yaman juga dilayangkan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia, salah satunya organisasi nonpemerintah yang mengkampanyekan perlawanan terhadap perdagangan senjata, Campaign Against Arms Trade.

“Rezim Arab Saudi adalah salah satu kediktatoran paling brutal di dunia dan telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang mengerikan di Yaman,” kata Andres Smith, dari Campaign Against Arms Trade. “Dan penghancuran itu tidak akan mungkin terjadi tanpa keterlibatan dan dukungan dari pemerintah yang berurusan dengan senjata,” tambahnya.

Perancis sebagai negara pengekspor senjata terbesar ketiga di dunia memandang Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sebagai klien utama dan berulang kali menolak desakan untuk menghentikan penjualan senjata ke negara-negara Teluk. “Perancis memiliki kepentingan strategis dalam bagian dunia ini,” kata Parly, menambahkan bahwa pengiriman senjata terbaru sebagai bagian dari kemitraan jangka panjang dengan Saudi dan UEA.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*